Posts

Showing posts with the label Kisah Kehidupan

Menikmati Inner Peace

Pekan lalu, gue mengikuti sebuah retret yang berjudul Alone With God. Kedengarannya memang agak tidak biasa, mengapa perlu sendiri bersama Tuhan? Tetapi justru retret inilah yang kita butuhkan. Melalui retret ini, kita bisa banyak merenungkan Firman Tuhan dan berdoa karena porsi retret ini memang lebih banyak dikhususkan untuk momen perenungan. Gue sendiri ikut retret ini karena gue merasa bahwa akhir-akhir ini gue kurang menikmati relasi gue dengan Tuhan. Saat teduh terasa terburu-buru, doa terasa kering dan tidak terjawab. Gue juga kurang bersemangat dalam bekerja. Selain itu, gue mudah khawatir, ragu, bahkan takut dalam menjalani kehidupan. Sehingga ketika gue melihat pemberitahuan tentang adanya retret itu, gue langsung tertarik. Singkat cerita, setelah mengikuti retret, gue kembali disegarkan jiwa dan fisiknya. Gue belajar bahwa inner peace -- sesuatu yang saat ini tengah digembar-gemborkan dunia-- hanyalah dapat diperoleh melalui relasi yang lekat kepada Allah. Inner peac...

Sambat Terus!

Sebagai manusia, pastilah kita senang mengeluh. Sambat, atau dalam Bahasa Indonesia: mengeluh, sudah menjadi suatu kebiasaan. Pagi hari saat berangkat beraktivitas lalu bertemu macet? Sambat! Siang hari diberi tugas oleh atasan dengan deadline  mepet? Sambat! Malam hari batal nge- date  sama gebetan? Sambat meneh!!1!!1 Lantaran akhir-akhir ini sambat menjadi populer, saya merenungkan kembali apakah sebenarnya mengeluh menjadi sesuatu yang overrated akhir-akhir ini? Pendapat masyarakat mengenai keluhan menjadi terlalu terbelah: melarang atau mendukung sambat. Bagi orang-orang yang melarang keluhan, mereka berdalih bahwa mengeluh hanya akan mengurangi rasa bersyukur. Bahwa seharusnya manusia itu banyak bersyukur, tidak melihat segala sesuatu dari sisi yang merugikan, serta senantiasa melihat bahwa keadaannya jauh lebih baik dari kebanyakan orang lain. Bagi orang-orang yang mendukung keluhan, mereka berdalih bahwa dengan mengeluh segala emosi jadi tersalurkan. Lagipula meng...

On Her Wedding Day

Pernikahan memang unik. Satu hari dalam hidup manusia yang mungkin dialami banyak orang, tetapi tidak semua. Sebuah hari ketika bahagia melapisi oksigen yang dihirup orang-orang di dalamnya, kecuali bagi yang tidak merestuinya. Gue berkesempatan untuk menyaksikannya kemarin, pernikahan kakak kandung gue. Sejujurnya ada perasaan yang bercampur aduk ketika mengetahui kakak gue akan menjadi milik orang. Dia adalah satu-satunya saudara kandung yang gue punya. Otomatis, kalau ada apa-apa ya gue datangnya ke dia. Mengetahui bahwa sekarang dia sudah pindah dan bertanggung jawab kepada suaminya membuat gue merenung mengenai makna kehadiran kakak gue di hidup gue.  Keluarga gue memang bukan tipe keluarga dengan afeksi yang terlihat dalam bentuk kata-kata atau tindakan yang romantis. Namun jelas, kami saling menyayangi, nyaris tidak pernah bertengkar. Selisih paham pasti terjadi, tetapi kami bisa melihat dalam kaca mata yang tepat: dinamika. Harus gue akui, beberapa keputusan be...

Menaklukan Tes CPNS (Part 1)

Gak bisa dipungkiri, menjadi PNS bagi sebagian orang masih merupakan pekerjaan yang diimpi-impikan. Masih banyak orang tua yang ingin anaknya jadi PNS, atau punya menantu PNS. Gue sebenarnya cukup kaget sih, di era milenial dan maraknya start up, tiap pembukaan tes CPNS masih tinggi animonya. Termasuk juga ketika tahun 2017 kemarin, ketika pembukaan penerimaan CPNS dari berbagai kementerian dimulai. Kayaknya hampir semua temen gue daftar, deh. Gue juga.  Sebelumnya gue ingin cerita kalau gue udah lama ingin jadi abdi negara. Alasannya? Gue gemas aja liat keadaan birokrasi di negeri ini, dan ingin berkontribusi langsung di dalamnya. Gue percaya ada banyak cara untuk berkontribusi kepada bangsa. Salah satunya adalah jadi PNS. Terdengar klise dan sok idealis? Ya, memang! Namun kenyataannya, itulah yang gue rasakan. Orang tua gue nggak seperti kebanyakan orang tua yang ingin anaknya jadi PNS. Berhubung keluarga gue mayoritas PNS, memang ada baiknya gue bekerja di swasta. Gue...

Dunia Baru Itu Bernama Dunia Kerja

Image
Sudah dua bulan gue menjalani kehidupan baru gue di dunia pekerjaan yang baru. Memang sebelumnya gue sudah pernah bekerja, baik itu di dunia freelance yang serba bebas, maupun di dunia gaib  perkontraktoran yang serba deadline . Kalau orang tahu apa pekerjaan gue sekarang dan latar belakang pendidikan gue, 99% orang bakal bilang kalau keduanya gak nyambung. Gue lulusan teknik elektro dan gue bekerja di Kemenkumham. Heran? Berpikir kalau gue bertugas mengganti lampu dan benerin soket listrik di kantor ini? Sudah biasa dianggap demikian. Long story short, gue sekarang bertitel sebagai CPNS di kementerian ini. Sebenernya gue udah berniat bikin full story- nya sih, di blog gue ini. Sekaligus memberi inspirasi, kali aja ada yang mau jadi abdi negara. Namun gue rasa porsinya lebih pantas kalau nanti gue udah lebih lama kerja di sini (atau lebih tepatnya ketika udah resmi jadi PNS). Lalu sampeyan nulis apa dong di postingan kali ini? Sobat, gue hanya ingin berbagi p...

Setelah Puasa Instagram, Ini yang Terjadi Kepada Saya

Akhir-akhir ini tiap nulis judul, gue selalu menggunakan formula ala-ala click bait -nya Line Today. Mungkin Line Today memang hendak menanamkan doktrin penulisan judul. Dengan metode seperti ini, barangkali blog gue bisa melanglang buana di jagad internet. Pengalaman puasa Instagram gue dimulai ketika merasa gue terlalu banyak menghabiskan waktu terlalu banyak di depan layar ponsel pintar. Kayaknya dalam sehari gue bisa menghabiskan waktu lebih dari tiga jam untuk scrolling  Instagram, lihat-lihat explore , lihat-lihat Instastory , sampe kadang kepoin Lambe Turah juga. Sepertinya semenjak nganggur, kehidupan gue banyak gak produktifnya karena kebanyakan mantengin Instagram. Namun itu gak separah efek lain yang ditimbulkan, yaitu gue jadi sering membanding-bandingkan hidup gue dengan orang lain. Kalau dilihat hampir 90% postingan orang di Instagram isinya tentang momen menyenangkan. Sekalipun bahkan isinya tentang keluhan hidup, kadang di sampingnya terdapat gelas kopi Starbuc...

Bukan Sanguinis, Ternyata Ini Kepribadian Saya!

Judulnya udah terlihat seperti berita Line Today belom? Pengennya, sih, biar jadi click bait gitu. Syukur kalo bisa mengundang banyak pembaca. Biar terkenal dan bisa di- endorse . Asal jangan tiba-tiba dilaporkan karena dugaan pencemaran nama baik aja, sih. Menurut para ahli psikologis, kepribadian manusia bisa dibagi berdasarkan sifat tempramennya. Ada 4 kepribadian: koleris, sanguinis, plegmatis, dan melankolis. Gue nggak akan menjabarkan artinya semua disini, karena bisa kalian googling sendiri. Salah satu artikel yang gue baca ada di sini . Konon kata para ahli, manusia itu umumnya terdiri dari 2 sifat dominan. Sesekali, kita juga bisa tetap merasakan tempramen lain yang bukan menjadi sifat dominan. Untuk mengetahui karakter mana yang menjadi dominan, bisa ikut tes-tes yang ada di internet. Dulu gue pernah mengikuti semacam tes kepribadian dan hasilnya (katanya) gue adalah pribadi sanguin-koleris. Gue sih percaya-percaya aja sama hasilnya. Gue memang merasanya gue cukup cocok...

Mungkin Mbaknya Stress

Pagi ini gue mengalami kejadian unik. Diawali dengan pagi seperti biasa, gue berjalan menuju halte Transjakarta Pramuka LIA. Gue berangkat ke kantor barengan nyokap karena kami emang sama-sama naik TJ. Gak ada yang spesial sampai gue melihat sesosok mbak-mbak berjalan keluar dari halte. Masih muda dan cantik. Pakaiannya juga modis. Tebakan gue, umurnya palingan 25 tahun. Dia pakai headset dan terlihat berjalan biasa saja. Tipikal wanita karier pada umumnya, lah. In case you wonder kenapa gue sebegitu perhatikan si mbak-mbak ini, gue emang pengamat hal gak penting. Sampailah gue semakin mendekat, hampir berpapasan dengan si mbak-mbak. Tiba-tiba mbak ini melemparkan sampah sembarangan ke arah belakang (bukan ke arah gue). Benar-benar melempar sampah bukan dengan sembunyi-sembunyi! Lalu mukanya juga tetap fierce ala American Next Top Model. Gue cengo. Nyokap gue pun cengo. Kaget gue dengan perbuatan mbak-mbak ini, gampang banget buang sampah sembarangan. Si mbak-mbak tetep ngelengos...

Halo 2017!

Menutup tahun 2016 dan memulai tahun 2017 menjadi sorotan utama di hari ini. Tepat 366 hari akan dilewati di tahun 2016. Tadinya gue berpikir tahun 2016 akan menjadi tahun yang berat. Nyatanya tidak. Tahun ini sebenarnya gue gak mengharapkan apa-apa selain lulus kuliah. I couldn't ask God for more, karena buat gue bisa lulus tepat 8 semester hampir mustahil mengingat progres gue yang sangat lambat waktu itu. Pada akhirnya Tuhan memampukan gue melampaui sidang sampai akhirnya menambahkan gelar sarjana teknik di belakang nama gue. Plus ditambah bonus seorang pendamping wisuda yang sekarang jadi pacar gue. Selain itu masih banyak deretan berkat Tuhan yang luar biasa. Gue bisa jadi pemimpin RK di bulan Februari. Oh iya, di masa skripsi gue juga masih bisa melayani sebagai PPA di PMKJ. Bersama Yosia, Sam, Yoan, Kohen, dan Josua, kami juga mengerjakan pelayanan di timreg PH. Gue juga diberikan anugerah untuk melayani maba 2016 di Panpenmaru POUI. Tahun 2016 juga memberi gue kesempa...

Rumah Dua Setengah Bulan

Gue mengawali cerita ini dengan tidak membuat alasan mengapa sudah lama tidak menulis. Tidak ada alasan khusus sebenarnya. Hari ini ketika gue menulis lagi, idenya sebenarnya sudah muncul sejak satu bulan lalu. Gue hanya baru menuliskannya sekarang. Cerita ini berawal ketika gue selesai wisuda. Salah satu ketakutan terbesar gue saat itu adalah: gak dapet pekerjaan. Jadilah saat itu gue berdoa supaya gue cepat mendapat pekerjaan yang sesuai dengan panggilan hidup. Walaupun gue juga belum tau sih panggilan hidup gue apaan. Tiba-tiba hari itu gue mendapat whatsapp dari seorang teman lama. Entah apa yang kita perbincangkan awalnya, tiba-tiba gue ditawarin untuk kerja di Rumah Lembang. FYI, di bulan Agustus, ga banyak yang tau apa itu Rumah Lembang. Gue pun gak tau. Gue pikir Rumah Lembang itu adanya di Lembang, sejenis tempat wisata. Ternyata, eh ternyata, Rumah Lembang itu rumah pemenangannya Ahok. Mau jadi apa gue? Ngerti politik aja kaga.  Hal pertama yang gue pikirkan: apa ...

Terlalu Manis

Perjalanan kehidupan beriman memang nggak pernah mulus-mulus aja. Kadang naik, kadang turun. Baru-baru ini gue merasakan lagi kecewa terhadap apa yang gue alami. Kecewanya gak lama sih, cuma satu hari. Tuhan memang masih terlalu baik memanggil gue kembali merasakan kasihNya. Kasih yang terlalu manis, sampai gue terharu sendiri. Cerita ini diawali dengan gue yang ikut pendaftaran calon pegawai KPK. Iya, gue daftar KPK. Gue lolos seleksi administrasi dan melanjutkan ke tahap berikutnya, tes online. Gue sangat-sangat panik kalo ngikutin tes online. Bukan apa-apa, Gue banyak pengalaman error ketika ikut tes-tes model gini. Jadilah gue bolak-balik baca petunjuk tes online ini dan memastikan semuanya telah gue kerjakan dengan baik. Oh iya, gue nulis ini bukan untuk menjelekkan satu pihak ya! Nah, tibalah hari gue tes online. Setelah login ternyata gue gak bisa tes karena cookies gue ga aktif. Padahal udah gue pastikan itu cookies udah aktif. Panik lah gue. Apalagi tes online nya cuma b...