Posts

Pertanyaan

Semasa saya sma, ada senior saya yang sering melontarkan kalimat, "Nggak semua hal harus lo tau,". Kalimat ini sering banget keluar ketika kami sedang berkumpul dan bertanya-tanya hal yang saya atau teman-teman saya ga perlu tahu jawabannya. Atau singkatnya, gak ada relevansinya sama sekali dengan kehidupan saya. Saya pribadi sering kesal kalau dia sudah melontarkan pernyataan itu. Memang apa salahnya kalau saya ingin tahu? Kalaupun saya tidak boleh (atau tidak perlu tahu), kan dia tinggal bilang, "gue ga bisa kasih tau lo,". Nyatanya dia lebih memilih kalimat "gak semua hal harus lo tau" yang menurut gue menyiratkan bahwa gue super kepo. Oh, tentu saja di jaman saya belum terucap istilah kepo. Sekarang saya sedang memikirkan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan. Tentang pekerjaan, percintaan, bangsa dan negara, sampai bagaimana cara mencicil rumah dan mobil sebelum saya berumur 30 tahun. Pertanyaan yang saya sendiri bingung, mengapa di usia saya yang...

Kalah

Wow, ini ternyata postingan pertama gue di tahun 2017! Oke, ternyata gue memang gagal (lagi-lagi) dalam mendisiplinkan waktu menulis. Tanpa alasan dan tanpa tedeng aling-aling mengapa gue tidak menulis. Akan ada saatnya gue nanti menceritakan ke mana saja ide-ide itu menguap. Syukurlah ada Pilgub DKI putaran 2 yang bikin gue semangat lagi buat nulis. Sesuai judulnya, gue harus menerima kekalahan. Bukan gue sih ya lebih tepatnya. Pasangan calon nomor 2, Pak Ahok dan Pak Djarot memang kalah. Ya, gue sebenarnya udah bisa menebak sih. Bukan pesimis ya, tapi memang masyarakat sangat terekspos dengan isu-isu SARA. Kalau sudah masalah ini, sensitif sekali memang. Tetapi justru inilah yang membuat gue sedih. Ketimbang mengunggulkan program, para pendukung ujung-ujungnya selalu membawa hal ini. Sedih. Kita semua sedih. Namun, jangan kita lupa bahwa ada Pribadi yang Mahatahu dan Mahakuasa yang menjadikan hari ini sebagai hari kekalahan. Sudah dua minggu ini gue belajar dari Kitab Habakuk. ...

Halo 2017!

Menutup tahun 2016 dan memulai tahun 2017 menjadi sorotan utama di hari ini. Tepat 366 hari akan dilewati di tahun 2016. Tadinya gue berpikir tahun 2016 akan menjadi tahun yang berat. Nyatanya tidak. Tahun ini sebenarnya gue gak mengharapkan apa-apa selain lulus kuliah. I couldn't ask God for more, karena buat gue bisa lulus tepat 8 semester hampir mustahil mengingat progres gue yang sangat lambat waktu itu. Pada akhirnya Tuhan memampukan gue melampaui sidang sampai akhirnya menambahkan gelar sarjana teknik di belakang nama gue. Plus ditambah bonus seorang pendamping wisuda yang sekarang jadi pacar gue. Selain itu masih banyak deretan berkat Tuhan yang luar biasa. Gue bisa jadi pemimpin RK di bulan Februari. Oh iya, di masa skripsi gue juga masih bisa melayani sebagai PPA di PMKJ. Bersama Yosia, Sam, Yoan, Kohen, dan Josua, kami juga mengerjakan pelayanan di timreg PH. Gue juga diberikan anugerah untuk melayani maba 2016 di Panpenmaru POUI. Tahun 2016 juga memberi gue kesempa...

Rumah Dua Setengah Bulan

Gue mengawali cerita ini dengan tidak membuat alasan mengapa sudah lama tidak menulis. Tidak ada alasan khusus sebenarnya. Hari ini ketika gue menulis lagi, idenya sebenarnya sudah muncul sejak satu bulan lalu. Gue hanya baru menuliskannya sekarang. Cerita ini berawal ketika gue selesai wisuda. Salah satu ketakutan terbesar gue saat itu adalah: gak dapet pekerjaan. Jadilah saat itu gue berdoa supaya gue cepat mendapat pekerjaan yang sesuai dengan panggilan hidup. Walaupun gue juga belum tau sih panggilan hidup gue apaan. Tiba-tiba hari itu gue mendapat whatsapp dari seorang teman lama. Entah apa yang kita perbincangkan awalnya, tiba-tiba gue ditawarin untuk kerja di Rumah Lembang. FYI, di bulan Agustus, ga banyak yang tau apa itu Rumah Lembang. Gue pun gak tau. Gue pikir Rumah Lembang itu adanya di Lembang, sejenis tempat wisata. Ternyata, eh ternyata, Rumah Lembang itu rumah pemenangannya Ahok. Mau jadi apa gue? Ngerti politik aja kaga.  Hal pertama yang gue pikirkan: apa ...

Terlalu Manis

Perjalanan kehidupan beriman memang nggak pernah mulus-mulus aja. Kadang naik, kadang turun. Baru-baru ini gue merasakan lagi kecewa terhadap apa yang gue alami. Kecewanya gak lama sih, cuma satu hari. Tuhan memang masih terlalu baik memanggil gue kembali merasakan kasihNya. Kasih yang terlalu manis, sampai gue terharu sendiri. Cerita ini diawali dengan gue yang ikut pendaftaran calon pegawai KPK. Iya, gue daftar KPK. Gue lolos seleksi administrasi dan melanjutkan ke tahap berikutnya, tes online. Gue sangat-sangat panik kalo ngikutin tes online. Bukan apa-apa, Gue banyak pengalaman error ketika ikut tes-tes model gini. Jadilah gue bolak-balik baca petunjuk tes online ini dan memastikan semuanya telah gue kerjakan dengan baik. Oh iya, gue nulis ini bukan untuk menjelekkan satu pihak ya! Nah, tibalah hari gue tes online. Setelah login ternyata gue gak bisa tes karena cookies gue ga aktif. Padahal udah gue pastikan itu cookies udah aktif. Panik lah gue. Apalagi tes online nya cuma b...

Singleness

Gue baru saja menonton sebuah film berjudul How To Be Single. Gue gak terlalu suka film ini sebenernya. Lebih ke alasan selera pribadi, sih. Gue suka film sci-fi, action, atau kartun. Untuk film drama, gue hanya nonton kalo stok genre film favorit gue udah abis. Film ini bercerita tentang keseharian empat wanita dengan cara mereka menghadapi masa-masa lajang mereka. Dari segi cerita, menurut gue gak ada yang spesial (lagi-lagi ini pendapat pribadi). Sampai pada akhirnya tiba di penghujung film, ada pesan yang gue tangkap secara berbeda. Inti pesan yang gue tangkap, "Kita gak akan bisa dengan utuh menikmati relasi dengan pasangan, kalau kita belum dengan utuh menikmati masa penantian (single)". Gue teringat pernah suatu kali di Persekutuan Jumat bertema LSD, pembicaranya berkata "any season of singleness is a season of happiness.". Kurang lebih inilah yang gue tangkap dari film ini (instead of pesan lain di film ini yang sangat tidak kristiani). Gue telah menga...

He Answers, He Satisfies

Hal apa yang membuatmu bersukacita?  Pertanyaan itu terus-menerus gue pertanyakan dalam benak gue. Bukannya gue tidak mengetahuinya, gue mengulang-ulang pertanyaan ini untuk semakin menguji diri sendiri. Sudahkah gue bersukacita atas hal yang benar? Sudahkah gue bersukacita karena Allah? Hari ini pertanyaan itu kembali menggema, diawali dari saat teduh pagi ini. Gue menggunakan bahan Our Daily Bread (Santapan Rohani atau WarungSateKamu dalam Bahasa Indonesia). Hari ini judulnya True Riches. Oh, menarik, pikir gue saat membaca judulnya. Memang benar, saat dibaca sungguh-sungguh menarik. Bahan bacaan Firman diambil dari Lukas 12:22-24. Gue udah membaca bagian Firman yang ini beberapa kali sebenarnya. Tetapi hari ini Allah kembali meneguhkan lewat Firman yang sudah sering gue baca.  Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. (Lukas 12:29) Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu ...