Posts

Belajar Bersyukur

Manusia, seperti sewajarnya, paling susah sama yang namanya bersyukur. Entah karena lupa, atau memang kita lebih suka berfokus pada hal-hal yang 'belum' dikerjakan oleh Tuhan. Beberapa hari yang lalu gue bersaat teduh dan topiknya adalah tentang manusia yang seringkali lupa kebaikan Tuhan. Eh, pas banget ketika gue mengamati sekeliling gue, gue menemukan kondisi-kondisi yang membuat gue belajar bersyukur. Pertama, gue akhirnya mendengarkan curhatan temen gue yang punya pacar (almost) perfect: ganteng, baik, berkecukupan, masa depan (sepertinya) cerah, pinter.... Apa lagi ya kurangnya? Sepenglihatan gue yang sudah menyaksikan langsung pacarnya temen gue ini, gue langsung merasa: "Ya Tuhan, anakMu ini kapan dipertemukan dengan jodoh seperti ini?". Oke. Tapi ternyata menurut temen gue, pacarnya bukanlah sosok sempurna yang lebih banyak kurangnya. Kemudian dia dekat dengan pria lain, yang dalam beberapa sifat lebih baik daripada pacarnya. Singkat cerita, dia punya 2 ...

Mengamati Sekeliling

Gue bukan tipe orang yang cukup sabar dalam hal menunggu. Sayangnya, banyak waktu dalam satu hari gue habiskan untuk menunggu. Menunggu kereta atau metromini datang, menunggu ojek, menunggu makanan siap disajikan dari kantin, menunggu jodoh mungkin--kalau ingin dimasukkan dalam kategori ini. Ketika menunggu tentu banyak hal yang kita lakukan, berpura-pura agar waktu berlalu dengan cepat. Sok sibuk dengan HP misalnya. Gue memang sering menghabiskan waktu menunggu dengan kegiatan ga produktif: ngecek media sosial, terus komentar dalam hati. Tapi gue sadar sih, kebiasaan ini nggak baik dan sepertinya gue harus lebih banyak menghabiskan waktu menunggu dengan membaca atau mengamati sekitar lalu mengobrol dengan orang asing (kalau berani). Salah satu hal yang sedang gue coba disiplinkan untuk dilakukan ketika menunggu adalah mengamati sekitar. Kegiatan aneh, sih memang. Tapi kalau sudah menikmati mengamati orang, kita bisa lebih jujur dalam cara pandang kita terhadap sesuatu (atau seseora...

Penulis Jadi-jadian

Gue sering mengidentifikasi diri gue sebagai orang yang punya bakat menulis, namun terkubur sia-sia karena kemalasan gue menulis (atau, literally mengetik). Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan kalau gue menyebut diri gue sebagai: penulis jadi-jadian. Kalau lagi pengen nulis, ya jadi tulisan. Kalau nggak pengen nulis? Ada dua kemungkinan: gue akan menghasilkan karya galau yang tidak membangun (atau memang selalu demikian?), atau gue akan memasuki fase menyusun karya dalam otak namun tidak menghasilkan apa-apa. Salah satu hal yang gue targetkan tahun ini adalah lebih produktif dalam membaca dan menulis. Atau lebih tepatnya, membaca lebih banyak daripada gue menulis. Gue selalu teringat pesan Pak Fidi, guru Bahasa Indonesia gue pas SMP. Beliau berkata bahwa seorang penulis haruslah lebih banyak membaca. Nyatanya, sampai hari ini gue masih sangat minim membaca dan menulis. Bulan kedua tahun ini, gue hanya bisa menghabiskan satu buku (yang sebenernya sudah dibaca dari tahun lalu), dan ...

Senandung

Lantunan nada merangkai lagu semacam penawar hati yang meragu siapa bilang merindu itu nikmat? aku merasakannya seperti kiamat lagu ini buat sang kekasih hati yang hanya bisa didoakan dalam hati yang dirindukan namun tak pernah kembali hanya bisa dikenang, bukan dinikmati (Depok, 21 Februari 2016)

Reminisce

Reminisce / reməˈnis/ :  Indulge  in  enjoyable   recollection  of  past  event Sebenernya tulisan ini akan menyalahi pengertian dari reminisce sih. Sejujurnya gue tidak selalu "indulge in enjoyable" ketika mengenang masa lalu. Faktanya, gue lebih sering sedih ketika mengenang masa lalu. Sedih, karena semua kebahagiaan itu hanya kenangan. Sebesar usaha kita pun, tidak akan pernah bisa mengembalikan situasi tersebut. Bukan hanya waktu yang tidak bisa diputar, melainkan juga orang-orang dalam memori tersebut mungkin kini sudah berubah.  Tetapi gue tetap bersyukur buat setiap kesempatan yang Tuhan berikan di dalam masa lalu itu. Masa lalu yang membuat gue memahami bahwa Tuhan tetap menyertai sampai masa kini bahkan masa mendatang. Gue bersyukur pula ketika bertemu lagi dengan orang-orang masa lalu yang pernah membuat kenangan yang memorable, ada suka dan duka. Orang-orang yang membuat gue kembali menertawakan kebodohan masa lalu, menatap gue masa...

No Resolution

Mumpung masih suasana tahun baru, sekarang postingannya bertema tahun baru juga deh. Tahun baru pasti disusul dengan encana-rencana baru, atau lebih tepatnya, buat gue: wacana-wacana baru. Sejujurnya, di umur gue yang sudah 22 tahun (!!!) ini gue lebih skeptis dengan tahun baru. Tahun-tahun sebelumnya, sih skeptis juga. Gue bukan tipe orang yang excited dengan tahun baru sih. Menurut gue sama aja dengan pergantian hari biasa. Tapi bukan berarti gue mengecilkan penyertaan Tuhan selama satu tahun, ya. Tahun baru, resolusi baru, wacana baru. Tahun ini, tidak peduli orang akan berkata apa untuk gue, gue tidak menyusun resolusi. Tujuannya: supaya gak jadi wacana. The plan is: having no plan. Bukan berarti tanpa persiapan dan rencana. Ya, gue sudah merencanakannya. Gue hanya tidak menuliskannya sebagai bucket lists. Satu-satunya hal yang akan gue fokuskan adalah: berusaha dengan sebaik-baiknya. Tidak peduli akan daftar apa yang harus dicek di akhir tahun, karena gue sudah lelah kecewa berw...

Do We Have Any Room For Jesus?

Tulisan random ini diilhami ketika menhadiri dua acara natal dalam satu hari. Seperti Bulan Desember pada umumnya, setiap weekend pasti selalu dihiasi dengan acara natalan, mulai dari natal fakultas, universitas, kampus tetangga, lembaga pelayanan, kantor nyokap, gereja, sampe natal marga (yang kalo tiap marga ngadain natalnya sendiri, ga kebayang berapa natal yang diadain di seantero kota). Herannya, atau mungkin untungnya, setiap natal tersebut selalu dipenuhi oleh orang-orang. Bahkan gak jarang juga sampai kehabisan tempat. Di hari itu, ada suasana yang hampir sama di dua natal yang berbeda. Yang berbeda mungkin hanya pelakunya saja. Jadi keadaannya, ibadah sudah dimulai. Tempat duduk sudah lumayan terisi penuh, beberapa masih kosong, namun ada juga yang sengaja ditag orang-orang yang sudah datang untuk teman-temannya yang datang terlambat. Sudah menjadi tipikal kita bersama, kalau ada satu orang yang datang duluan, pasti kebagian nge-tag tempat buat teman-teman yang lain yang ter...