Tergantung Kacamata
Semester tujuh buat gue adalah masa-masa kuliah yang sangat ingin gue isi dengan pengalaman menarik. Menikmati tahun terakhir kuliah (what?! terakhir?!) seharusnya berarti kuliah dengan lebih rajin dan tentu kalau bisa ngambil kelas matkul eksternal yang asik. Untuk masalah kuliah dengan lebih rajin, jujur gue pribadi juga masih bergumul dengan hal itu ya. Kadang kalau dosennya ngomongnya ga jelas dan cara ngajarnya gak enak, mata gue suka otomatis merem gitu...
Yak, sebenernya inti dari penulisan kali ini menceritakan mata kuliah eksternal yang gue ambil: Filsafat Timur. What? Ngapain juga anak elektro ngambil filsafat timur? Setidaknya itulah pertanyaan yang pertama kali terlontar dari orang-orang yang tau gue ambil matkul ini. Well, gue ambil matkul ini ga lain ga bukan ya karena gue penasaran sama cara pikir orang sosial. Tadinya gue pengen banget ambil politik, tapi sayangnya kelasnya ga dibuka. Yaudah deh ambil filsafat aja. Seenggaknya gue juga penasaran sama ilmu satu ini, yang sering dibilang orang ribet dan gak jelas. "Ngapain sok-sok berfilsafat, nggak penting!", itu kata orang. My life is too short to listen what people's opinion, jadi lebih baik terjun langsung aja sekalian.
Ketakutan lain yang gue alami juga adalah: gue takut jadi atheis. Bukan rahasia juga lah kalo orang-orang filsafat banyak yang atheis. Dengan mereka yang mempertanyakan Tuhan, kaum awam sering menuduh kalo filsafat bikin orang jadi atheis, or at least questioning God. Gue pun sempat berpikiran demikian. Apa kata ibu-kakak-senior-junior-AKK-TKK-PKK- teman-teman se UI kalo gue jadi atheis atau meragukan Tuhan....
Sejujurnya, semua stereotip dan keragu-raguan gue mengenai filsafat ternyata terhapuskan kok setalah masuk kelas ini. Filsafat timur (untungnya) lebih dekat dan umum dengan pengetahuan kebudayaan ketimuran sih. Which is, orang Indonesia pasti familiar dengan topik besarnya (walopun setelah ditelusuri, asing juga pemahamannya). Intinya kita mempelajari filsafat timur mulai dari India yang kental dengan Hindu, kemudian Budha, juga ditarik ke kebudayaan Jawa. FYI, sebenarnya filsafat timur ini masih menjadi perdebatan apakah masuk dalam disiplin ilmu filsafat. Sebenernya gue ga paham-paham banget sih sama fakta barusan, buat gue mah filsafat-filsafat aja ngapain ribet sih. Oke pemahaman barusan ala teknik banget.
Filsafat (sejauh ini, semoga seterusnya juga demikian) tidak membuat gue meragukan atau mempertanyakan eksistensi Tuhan. Justru gue semakin yakin adanya Tuhan dan bersyukur telah menerima anugerah keselamatan dariNya. Di filsafat timur, gue belajar tentang agama Hindu yang punya kitab Veda. Dari keenam aliran (disebut Sad Dasana) hindu yang mempelajari Veda, bahkan kaum yang ga percaya Veda, gue bisa menyimpulkan satu kesimpulan (kesimpulan ini dilihat dari segi Kekristenan) bahwa sebenernya semua manusia mencari sesuatu untuk memuaskan dirinya dan itu ga bisa dicapai diluar Kristus.
Mereka mencari penyebab mereka hidup, elemen-elemen yg terkandung sejak awal, bahkan mencari Moksa ata pembebasan diri. Kita hidup di atas semua kontrol, kita yang memegang kendali dan bisa saja kita mencari apa itu Tuhan Sang Pencipta. Namun tentu, hanya karna anugerahNya saja kita dapat mengetahui apakah Tuhan benar-benar ada.
Gue ngomong ini terlepas dari sisi filsafat ya. Gue hanya benar-benar ingin membagikan apa yang menjadi pengalaman dan pengertian iman yang luar biasa buat gue semenjak gue ikut kelas ini. Sebagai mahasiswa dan orang terpelajar, gue menyukai filsafat sebagai seni berpikir kritis yang baik. Namun sebagai seorang Kristen, gue meyakini bahwa dengan kacamata yang berbeda, kita bisa melihat filsafat sebagai bukti bahwa memang hanya pekerjaan Roh Kudus yang bisa membuat orang percaya.
Filsafat memang ga melulu ngomongin 'Tuhan itu gaada atau sebaliknya', namun masih banyak kekayaan filsafat yang bisa kita gali. Jangan sekali-kali skeptis lah sama filsafat!
Comments
Post a Comment