Knowing You
Kisah ini dimulai dari ketika gue mengenal seseorang yang
sedari awal gak akan gue perkirakan untuk bisa berteman dengan gue. Dia cukup
eksis di kampus gue dengan segudang kegiatan organisasinya. Bahkan gue cukup
saja mengenal dia dari temen-temen gue. Intinya he’s not in my circle of
friend. Sejujurnya gue adalah tipe orang yang sangat-sangat memperhatikan first
impression. Dan first impression gue terhadap orang ini sangatlah tidak tepat.
Gue pertama kali menganggap orang ini sama sekali sombong dan gak peduli dengan
kehidupan rohaninya, gue pikir, dia sama aja kaya orang lain yang aktifnya di
organisasi doang.
Sekarang gue tau gue benar-benar salah dalam hal ini.
Seharusnya gue nggak terlalu terpaku pada first impression gue. Kesalahan gue
ini ditamparkan ke gue dua kali selama gue berteman dengan dia. Sekitar empat
bulan yang lalu, gue ditawarkan pada sebuah pelayanan di persekutuan
universitas tempat gue berkuliah. Hari pertama kumpul buat briefing, dia nggak
datang. Gue berpikir emang nggak ada dia disitu untuk bergabung sama-sama
dengan kami. Baru pada hari kedua kumpul, gue menyadari ada sesosok pria baru
di salah satu antara kami. Itulah dia.
Jujur pada awalnya lihat dia ada disitu, gue merasa bahwa
sepertinya ada yang salah. Dia kan sibuk banget dengan segala organisasinya.
Apa dia masih punya waktu benar-benar untuk mengambil pelayanan ini? Senaif itu
pikiran gue.... Bahkan sampai sekarang pun gue masih merasa berdosa pernah
berpikiran seperti itu terhadap dia. Hari demi hari pembinaan, gue masih terus
melihat dia, walaupun ada beberapa kesempatan yang gue atau dia gak bisa
hadiri.
Ketika tiba hari penjawaban pelayanan, gue masih melihat ada
dia disana. Jauh, jauh dalam hati gue, gue masih berpikir bahwa dia gak
menerima pelayanan itu. Gue berpikir demikian karena gue tau dia punya posisi
yang cukup strategis di kepengurusannya sekarang. Dari sharing tiap-tiap orang,
sampailah pada giliran dia. Gue masih ingat betapa di awal dia cukup kaget
ditawari pelayanan, pengerjaan tugas-tugas pembinaan yang cukup tertatih,
sampai kepada sebenarnya dia ditawarin sebuah jabatan. Gue melihat sesuatu yang
berbeda yang gue gak lihat dari dia sebelumnya: kerendahan hati.
Sebegitu rendah hatinya dia mau mengakui ketidakmampuan dia
untuk melakukan segala hal yang dipercayakan padanya. Gue seketika tertampar.
Gue senaif dan semunafik itu berpikiran jahat terhadap ia. Bahkan seharusnya
gue malu terhadap dia karena gue gak punya hati yang begitu rendah seperti dia.
Hari demi hari, gue akhirnya menjalani pelayanan dengan tujuh orang lain selain
gue dan dia. Di awal kepengurusan, gue tau bahwa dia sebegitu memperjuangkan
pelayanan ini. Dia sempat sakit, tapi tetap berjuang ditengah sakitnya untuk
tetap datang rapat. Dia mungkin tidak terlalu tahu banyak mengenai seluk beluk
pelayanan mahasiswa, namun ia sangat berjuang untuk belajar. Seringkali gue
malu terhadap diri gue sendiri karena gue harusnya belajar dari dia.
Gue sempat kembali mempertanyakan dia ketika waktu itu gue
harus ikut retret bareng dia. Gue bertanya-tanya sebenarnya dia tipe orang yang
seperti apa. Gue sulit sekali menebak pribadinya. Sampai akhirnya di retret itu
dia bilang bahwa dia sangat takut ditolak lingkungannya. JLEB! Saat itu
terjawab sudah semua keraguan gue. Gue jadi tau kenapa dia bisa sangat
tertutup, sekaligus terbuka dengan orang lain karena dia hanya bisa membuka
dirinya pada orang-orang yang sudah ia yakini gak akan menolaknya. Tetapi
tamparan terbesar yang datang sesungguhnya hadir ketika retret itu usai.
Beberapa hari kemudian, ketika rapat, dia bercerita bagaimana retret itu cukup
banyak mengubahkan dirinya. Dia juga bercerita tentang betapa dia sering
mencuri kemuliaan Allah dan mengandalkan diri sendiri. Plak! Tamparan kedua
straight to the point banget. Iya! Gue seringkali bersikap kaya gitu. Tetapi
disaat yang sama gue gak cepat-cepat sadar dan memohon ampun, tapi gue malah
terjebak dengan zona nyaman itu.
Dia, orang yang sama sekali gak gue sangka akan bisa
berteman dengan gue, justru orang yang lebih dahulu mengajarkan gue akan
KESOMBONGAN HATI GUE. Ya, gue terlalu sombong menilai seseorang hanya dari
personal appearance-nya aja. Gue terlalu sombong mencuri kemuliaan Allah dan
mengandalkan kekuatan pribadi. Kesombongan itu dibalikkan semua oleh Tuhan
dengan kesaksian hidup teman gue ini. Unik memang cara Tuhan menegur anakNya.
Tetapi cara teguran ini benar-benar membuat gue belajar bahwa tidak ada
seorangpun layak menganggap diri lebih tinggi dari sesamanya. Terimakasih
Tuhan, dan terimakasih rekan sepelayananku!
Comments
Post a Comment