Posts

Perenungan 20 Tahun

Tulisan ini ditulis ketika gue (nyaris) berumur 20 tahun. Ya, sekitar 1 jam lagi gue akan berumur 20 tahun. Usia yang seharusnya sudah cukup dewasa dan matang. Usian dimana seharusnya sudah banyak yang gue capai dalam hidup. Usia dimana seseorang sudah punya visi yang tepat untuk dia pegang dan capai. Gue, di usia yang hampir 20 ini sesunggunya ingin menarik ulang, merefleksikan kembali apa yang telah dan belum gue capai. Gue akui sih memang sejauh ini, kalau dibilang soal prestasi, gue memang kalah dengan orang-orang di luar sana. Oke, gue memang berkuliah di universitas yang menyandang nama negara kita: Indonesia. Tapi prestasi gue menurut ukuran IPK yang dinilai manusia sangat jauh dari yang diharapkan. Sebagai orang yang nyaris gak punya bakat yang menonjol, gue gak memenangkan kejuaraan, kompetisi, atau lomba apapun. Iya memang gue sangat biasa. Apakah gue gak punya tujuan hidup? Gue sudah menyelesaikan buku The Purpose Driven Life. Gue tahu hidup gue adalah untuk tujuan Alla...

Dia yang Seharusnya Tidak Usah Dipikirkan

Terkadang sulit untukku tahu bahwa aku bukan siapa siapa Harusnya aku tidak berhak menanyakan kabarmu Harusnya aku diam dan tetap tahu diri Harusnya aku tidak terlarut dalam perasaanku sendiri Harusnya harusnya harusnya Kamu hanya terlalu bodoh, ter J

Ketika Kebodohan Bertemu Sang Harapan

terkadang aku terlambat menyadari bahwa ternyata embun yang menyambut bumi telah terlanjur diterpa panas laju matahari sudah terlalu siang aku menyambut datangnya lalu tak kurasakan sejukmu di gersang hati ini ya, sama bodohnya ketika aku terlambat menyadari bahwa busur pelangi itu terlalu tinggi dan kaki-kaki kerdilku ini tak mempu menyentuh bias warnamu atau mungkin sama bodohnya aku hari ini menanti kamu yang salah kuartikan ku kira ada hati yang kau sisakan padahal harusnya aku tak sebodoh ini terlambat menyadari

Menemukan Keasyikan Baru

Entah kenapa gue menemukan keasyikan baru akhir-akhir ini. well, sebenernya keasyikan baru ini bisa dibilang batu sandungan gue buat mengisi waktu luang gue sih. Instead of studying, i'd rather choose this activity, called observing. apa yang gue observasi? banyak. kebanyakan sih tentang bagaimana orang merespon suatu keadaan atau persoalan dalam hidupnya. semuanya berawal dari entah kenapa beberapa orang secara random curhat ke gue. mau gak mau gue harus memberikan nasihat lah atau kata-kata penyemangat. awalnya gue agak beban sih dicurhatin, tapi lama kelamaan kok asik juga ya. gue jadi bisa memahami pola pikir seseorang, menyelami hati mereka, dan mengerti karakter dan peran yang mereka jalankan. tahap akhirnya, gue mulai membuat kesimpulan bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi masalah mereka. dan gue mulai paham akan arti 'keberagaman' yang sesungguhnya. keberagaman juga berarti pola pikir yang berbeda, namun penyikapan yang dewasa me...

Kehilangan Passion

Kehilangan passion adalah salah satu hal yang gue takutkan dalam hidup gue. menurrut gue, mimpi menghidupkan kita, memproyeksikan visi kita, dan menenangkan di saat-saat tersulit kita. Sekarang yang gue hadapi justru berbeda. Gue merasa gue nyaris kehilangan passion gue. Di sebulan awal perkuliahan ini, gue merasa jadi orang yang serba nanggung. Kuliah gak pinter-pinter amat, organisasi gak jalan, olahraga gak jago, pecinta alam tapi keseringan cabut. Kadang gue jadi mempertanyakan, apakah hidup gue akan gini-gini aja? Gak ada satu hal yang bisa gue total ngerjainnya. Padahal, gue pribadi gak suka ngerjain sesuatu yang gak total. Gue nyaris kehilangan arah. Tapi di atas itu semua, yang paling gue takutkan justru tujuan hidup gue. Apa yang menjadi  tujuan hidup gue ini udah gue ketahui, tapi gue gak bisa menghidupi maknanya. Gue hidup untuk memuliakan nama Allah, tapi bagaimana bisa kalau hidup gue serba nanggung gini? Kecemasan gue juga berujung pada suatu pertanyaan: apakah ...

Seminggu yang Lalu

Seminggu yang lalu, andai aku bisa mengulang waktu bersamamu Detik-detik yang singkat kala kau menyapaku Kini tinggal kenangan selintas perasaan Sebelumnya tak menyangka kau bisa menemuiku Pikirku hanya dapat menatapmu dari kejauhan Namun pandangan kita bertemu, selaraskan rinduku ingin bertemu Masih terekam jelas kata demi kata yang kau ucapakan Bahwa kau tak bisa tinggal lebih lama Dan seketika juga mengubur mimpi menghabiskan waktu lebih lama Untuk menatapmu dibalik temaram letusan kembang api Walau kau pergi mengucap izin, Bolehkah aku mengulang lima menit seminggu yang lalu itu? (15 September 2013)

Sesaat

Entah racun apa yang kau sengatkan hingga sesaat aku terpaku melihatmu sore ini bukan perkara mudah menatap tegak ketika kau hampir mengucapkan salam walaupun aku tahu, itu hanya klise Sesak dadaku dipenuhi kilat bayangmu sesaat memang kau datang, namun membekas hingga kedalaman jiwa hari ini aku tahu, Tuhan menjawab doaku untuk melihatmu Memang sesaat, karena aku tahu aku tak berhak untuk meminta lebih. (19 September 2013)